Khazanah Islam
Nusantara
NGEROPOK PANJANG MULUD
(Ekspresi Islam Nusantara di Serang Banten)
Ditulis oleh:
Eka Sutisna
Deskripsi
Pagi itu 7 februari 2013 di Serang, Banten
tidak seperti pagi pagi biasanya, jalanan tampak lebih ramai penuh dengan
dekorasi unik. Saya yang merupakan pendatang di kota masih belum paham keadaan yang terjadi pagi
ini. Saya kira ini hanya sekedar pawai arak arakan biasa, tapi ternyata kata
penduduk sekitar pawai ini adalah salah satu tradisi islam yang berkembang di
daerah Serang ,Banten untuk memperingati maulid Nabi Muhammad shallallahu
alaihi wasallam. diselenggarakan pemerintah kota (pemkot) serang melalui dinas pemuda,
olahraga, pariwisata dan kebudayaan (disporaparbud) kota serang. Orang orang di
sekitar daerah tersebut menyebutnya
panjang mulud. Disebut panjang mulud karena kegiatan ini seperti
memajangkan sebuah makanan yang berbentuk hiasan-hiasan dalam bentuk macam
ragamnya. Bentuk-bentuk panjang mulud yang dihiasi, adalah perahu, pesawat,
ka’bah, masjid, kubah masjid, dan lain sebagianya.kegiatan panjang mulud
dimulai pada jam 9.00 wib diawali dengan iring-iringan panjang dari kantor
pemkot lama di ciceri sampai islamic center. Sebelum peserta pawai panjang
datang ke panggung utama, dimana wali kota serang tubagus (TB) Haerul Jaman,
dan sejumlah pejabat pemkot serang, unsur muspida dan tokoh masyarakat sudah
lama menunggu. Sekitar pukul 10.11 peserta panjang mulud
pertama datang, kedatangan peserta pertama itu disambut tepung tangan para
hadirin. Peserta selanjutnya menyusul dengan tertib. Salah satu yang membuat
acara ini ramai adalah adanya kendaraan hias dan berbagai benda yang di hias
yang berisi makanan sembako, makanan,
pakaian dan yang lainnya, kendaraan ini berjajar panjang ke belakang, kendaraan
hias dan isinya ini disiapkan oleh berbagai instansi dan kecamatan se-kota Serang.
Kemudian warga dipersilahkan untuk mengambil sembako dan barang barang yang
terdapat pada kendaraan tersebut. Namun sebelum dipersilahkan terkadang warga
sudah terlebi dahulu berebut mengambilnya.
Sejarah Panjang Mulud
Membicarakan sejarah panjang mulud tidak lepas dari
sejarah maulid sendiri. Imam
as-suyuthi dalam kitab husn al-maqosid fi amal al-maulid menerangkan bahwa
orang yang pertama kali menyelenggarakan maulid nabi adalah Malik Mudzorofah
ibnu Batati, penguasa dari negeri ibbril yang terkenal loyal dan berdedikasi
tinggi.mudzorofah pernah menghadiahkan sepuluh ribu dinar kepada syekh abu
al-khatib ibnu dihyah yang telah berhasil menyusun sebuah buku riwayat hidup
dan risalah rasulullah dengan judul at-tanwir fi maulid al-basyir al-nazir.pada
masa abbasiyah, sekitar abad kedua belas masehi, perayaan maulid nabi
dilaksanakan secara resmi yang dibiayai dan difasilitasi oleh khalifah dengan
mengundang penguasa lokal.acara itu diisi dengan puji-pujian dan uraian maulid
nabi, serta dilangsungkan dengan pawai akbar mengelilingi kota diiringi pasukan
berkuda dan angkatan bersenjata.Namun tidak diketahui secara pasti kapan
tradisi ini muncul di Banten, yang jelas, tradisi panjang mulud ini dirayakan
masyarakat banten untuk memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW.
Beberapa
pendapat menyebutkan bahwa panjang mulud lahir pada masa Sultan Ageng Tirtayasa
(1651-1672). Ada juga yang berpendapat panjang mulud bermula pada pada masa
sultan Banten kedua, Maulana Yusuf (1570-1580), namun tradisi panjang mulud
yang mulai melibatkan masyarakat secara massal baru dimulai pada masa sultan
ageng tirtayasa. Akibat kaburnya jejak sejarah itu, warga setempat hanya
mengatakan bahwa perayaan itu untuk melestarikan tradisi para pendahulu mereka. Namun tradisi ini tidak begitu dikenal seperti sekaten dan grebek maulud
karena itu sekarang pemerintah daerah kabupaten serang telah menjadikan
kegiatan panjang mulud ini sebagai program pemerintah daerah
kesimpulan
Sebagai sebuah kebudayaan dan tradisi tentu tradisi
panjang mulud patut kita lestarikan karena hal ini merupakan salah satu
identitas kita sebagai muslim nusantara. Dan dari segi keislaman tradisi ini
tidak keluar dari maidah dan syariat islam, tidak ada unsur kemusyrikan ataupun
hal hal yang mengandung mudharat,dan juga nilai nilai keislaman tetap ada
seperti membaca dzikir, shalawat barzanji, dan doa betapa pintarnya ulama
dahulu yang menyajikan tradisi islam menarik sehingga banyak orang yang
antusias menjalankannya .
Islam memang datang ke nusantara tidak dengan paksaan,
tapi dengan penyesuaian terhadap budaya budaya lokal. Dari segi budaya hal ini
harus dilestarikan karena merupakan identitas bangsa yang menunjukan islam
nusantara. Namun dari segi agama banyak pro dan kontra, namun semua kembali ke
niat kita sendiri, karena pada hakikatnya maulid diadakan untuk membuktikan
cinta kita kepada nabi, karena kecintaan itu kita akhirnya ingin selalu
mengingat beliau, berdoa dan bershalawat atasnya, dan inilah hebatnya para
penyebar agama islam terdahulu, mereka menyebarkan agama islam dengan
memasukkan unsur islam kedalam kebudayaan warga sekitar tanpa mengurangi niat
ibadah seseorang, seperti pada tradisi panjang mulud ini, warga tetap bisa antusias
dengan berbagai makanan yang terdapat pada panjang mulud namun warga juga tetap
bisa berdzikir, berdo’a dan bershalawat. Namun semua kembali kepada niat ‘al
umuuru bi maqoshidiha’ setiap perkara itu tergantung niatnya, jangan
diniatkan untuk mendapatkan makanan,,niatkan saja memperingati maulid nabi
mengharap syafaatnya,anggap saja hadiah yang di dapat di panjang mulud adalah
bonus kita di dunia, sedang bonus kita di akhirat tengah menanti yaitu
syafaatul udzma dari Nabi Muhammad SAW. Amin ya Rabbal a’lamin.
Wallahu a’lamu bisshawwab
Refferensi :
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/retane/2014/01/21/ekspresi-maulid-di-bumi-blambangan/ diunduh pada 11.44pm 19 okt 2014
http://samrahmatalfarizky.wordpress.com/2013/02/08/ngeropok-panjang-mulud-tradisi-budaya-masyarakat-banten/ diunduh pada 11.44pm 19 okt 2014
http://www.cahaya.co/kanal/read/2/590/tradisi-panjang-mulud-sebagai-ritual--keagamaan-di-banten.html diunduh pada 11.44pm 19 okt 2014


Tidak ada komentar:
Posting Komentar