KHAZANAH ISLAM NUSANTARA
Dosen :
Prof Dr Oman fathurrahman, M.hum
Oleh :
EKA SUTISNA
11140220000027
SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2014
Tradisi tahlilan sebagai tradisi islam nusantara
Mendengar istilah tahlilan tentu tidak asing lagi
ditelinga kita, karena tahlilan sudah menjadi salah satu praktek keagamaan
dalam agama islam di Indonesia bahkan sebagian umat islam juga menjadikannya sebagai rutinitas mingguan
terlebih pada malam jum’at dan terkadang disandingkan dengan pembacaan yasin
namun untuk yang ini sering disebut dengan istilah yasinan walaupun sebenarnya
memiliki subtansi yang sama. Meski tahlilan juga pada sebagian kelompok menjadi
hal yang dilarang karena dianggap sebagai bid’ah karena tidak ada pada ajaran
nabi namun eksistensi tahlilan di Indonesia tetap barjalan bahkan mendarah
daging bagi sebagian kelompok. Disebut mendarah daging Karena tahlilan bagi
mereka sudah menjadi ritual yang tidak
boleh ditinggalkan dan harus selalu diistiqomahi.
Dari segi bahasa tahlilan berasal dari kata tahlil
yang diberi imbuhan –an. Tahlil sendiri berasal dari bahasa arab hallala-
yuhallilu- tahliilan. Yang artinya mengucap la ilaha illallah..namun
menurut istilah tahlilan adalah ritual agama islam yang dilakukan oleh sebagian
umat islam di Indonesia untuk mendoakan arwah yang biasanya dilakukan pada
malam hari setelah kematian seseorang hingga 7 harinya, dan juga 40 hari atau
100 hari, bahkan ada pula yang 1000 hari dan juga 1 tahun, namun yang satu
tahun ini kita kenal dengan istilah haulan yang dilakukan setiap tahunnya.
Dalam prakteknya tata cara tahlilan banyak perbedaan
meskipun intinya sama, biasanya dipimpin oleh pemuka agama sekitar seperti
kyai, pak haji atau ustadz. Dimulai dengan pembacaan Al fatihah yang didahului
dengan hadharat kepada nabi Muhammad saw beserta para keluarga, kemudian Al fatihah untuk para
sahabat,auliya, para nabi dan rasul, dan lain lain, pada beberapa bacaan ada
sebagian yang merinci pembacaan al fatihah ini untuk para awliya dan para
habaib atau guru guru dan para kyai, dan kemudian Al fatihah tak lupa untuk
orang tua kita dan kakek nenek kita dan dikhususkan untuk arwah seluruh
muslimin dan muslimat. Setelah pembacaan Al fatihah dilanjutkan pembacaan surat
surat mulai dari surat Al ikhlas, Al falaq, An Naas, kemudian Al
fatihah,kemudian surat al baqoroh ayat 1-5,163,225,284-286. Kemudian dilanjut
dengan pembacaan istigfar dan tahlil. Dan dilanjut dengan do’a.
Perbedaan dalam bacaan tahlil terjadi karena subtansi
dari tahlilan sendiri adalah mengirim doa untuk arwah dan merupakan kesunahan
sehingga tidak ada rukun maupun hal hal yang wajib, hanya adat dan kebiasaan
saja yang berlaku sehigga setiap kebiasaan itu ditambah kemudian dibiasakan
lagi tidak akan ada masalah.
Tahlilan sendiri kini menjadi perbincangan para ulama
tentang hukum tahlilan, sebagian mengatakan kalau tahlilan haram hukumnya
karena tahlilan bukan berasal dari ajaran islam dan dikhawatirkan menjadi
bid’ah, dan sebagian mengatakan bahwa walaupun bukan berasal dari ajaran islam
tapi tujuannya baik dan tidak ada hal hal yang menyimpang baik dari bacaannya
maupun tatacaranya dan jika dikiaskan seperti dibukukannya Al Qur’an pada masa
abu bakar karena banyak para hafidz qur’an yang gugur dalam perang terjadi
perdebatan antara abu bakar dan umar yang meminta agar Al Qur’an dibukukan umar
berkata “ demi Allah, ini demi kebaikan”. Dan perdebatan ini bukan hanya
terjadi pada zaman sekarang, bahkan jika ditinjau dari segi sejarah tahlilan
sudah dipenuhi kontroversi.
Tradisi tahlilan berawal pada masa wali songo, tradisi
tahlilan awalnya adalah tradisi Dengan ajaran agama Hindu yang terdapat dalam
Kitab Brahmana. Sebuah kitab yang isinya mengatur tata cara pelaksanaan kurban,
sajian-sajian untuk menyembah dewa-dewa dan upacara menghormati roh-roh untuk
menghormati orang yang telah mati (nenek moyang) ada aturan yang disebut Yajna
Besar dan Yajna Kecil. Yajna Besar dibagi menjadi dua bagian yaitu Hafiryayajna
dan Somayjna. Somayjna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu. Adapun
Hafiryayajna untuk semua orang. Hafiryayajna terbagi menjadi empat bagian yaitu
: Aghnidheya, Pinda Pitre Yajna, Catur masya, dan Aghrain. Dari empat macam
tersebut ada satu yang sangat berat dibuang sampai sekarang bagi orang yang
sudah masuk Islam adalah upacara Pinda Pitre Yajna yaitu suatu upacara
menghormati roh-roh orang yang sudah mati. Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ada
suatu keyakinan bahwa manusia setelah mati, sebelum memasuki karman, yakni
menjelma lahir kembali kedunia ada yang menjadi dewa, manusia, binatang dan
bahkan menjelma menjadi batu, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain sesuai dengan amal
perbuatannya selama hidup, dari 1-7 hari roh tersebut masih berada dilingkungan
rumah keluarganya. Pada hari ke 40, 100, 1000 dari kematiannya, roh tersebut
datang lagi ke rumah keluarganya. Maka dari itu, pada hari-hari tersebut harus
diadakan upacara saji-sajian dan bacaan mantera-mantera serta nyanyian suci
untuk memohon kepada dewa-dewa agar rohnya si fulan menjalani karma menjadi
manusia yang baik, jangan menjadi yang lainnya. Sunan kalijaga menyadari bahwa
dalam menyebarkan agama islam agar mudah diterima oleh masyarakaat setempat
tidaklah dengan cara menghilangkan kebiasaan masyarakat tersebut, tetapi dengan
mengarahkannya dan memasukan unsur unsur islam kedalam ajaran tersebut. Dan
semua mantra mantra yang ada di dalamnya diganti dengan bacaan bacaan dalam
ajaran islam seperti ayat kursi, Al faatihah, yasin, Tahlil, istigfar dan lain
lain. Namun pendapat sunan kalijaga ini disanggah oleh beberapa sunan seperti
sunan ampel, sunan giri dan sunan drajat karena dikhawatirkan dikemudiian hari
ajaran ajaran tersebut akan dianggap ajaran Islam dan dianggap bid’ah, namun
pendapat sunan kali jaga ini pula mendapat dukungan dari sunan bonang, sunan
gunung jati, sunan muria, dan sunan kudus.perbedaan pendapat ini yang hingga
sekarang terwariskan.
Dan jika ditinjau dari tahun masa hidup sunan gunung
jati sejak abad ke-15, itu artinya tahlilan sudah terwariskan selama lebih dari
500 tahun di nusantara ini, dan kini tahlil sudah menjadi salah satu tradisi
agama islam yang ada di Indonesia dan bacaan bacaannya pun sudah ada di buku
buku seperti majmu syarif dan buku buku tahlil lainnya.
Demikian salah satu dari ragam kekayaan khazanah islam
yang ada di nusantara kita yang patut kita banggakan dan lestarikan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar